|
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ 28 April 2009 Cerita sukses smada di ajang ALSA ecomp Terima kasih karena sudah diperbolehkan untuk menuliskan cerita kemenangan Sman 2 KEdiri di Alsa... Sebelumnya saya mau meperkenalkan diri dulu, nama saya Maria Seraphine Agusta, kelas XI-IA-5 SMADA... Saya sering mengikuti lomba2 bahasa Inggris bersama teman2 saya, dan selalu dibimbing dan didampingi guru kami tercinta Bu Sri Puji Titis, kami biasa memanggil beliau Mam Titis. dan datanglah suatu undangan dari Alsa UI ke Smada Kediri, ini merupakan kebanggaan tersendiri, karena untuk pertama kali nya kami diundang mewakili Kediri, terutama karena kami termasuk sekolah2 yang terpilih untuk ikut berkompetisi di Alsa. Mam Titis sudah merekrut beberapa anak untuk mengikuti tiap-tiap kategori yang diberikan Alsa. Ada 9 kategori, dan Smada mengirimkan 6 kategori yaitu : Grandika , Claresta, Rizqi suryani --- Debate competition Cindy Kallista --- Speech Prita Aji --- Newscasting Achmad Aulia --- Paper Presentation Luthfia --- Spelling bee Desepta Ulum , Maria Seraphine --- Story Telling Seminggu sebelum Alsa, Smada mengadakan UTS (ujian tengah semester) maka kami tidak punya banyak kesempatan untuk latihan. Tapi masih kami sempatkan membuat naskah atau browsing2 bersama mam Titis, dan latihan walaupun hanya sebentar. Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kami naik kereta menuju Jakarta, dan diterima dengan sangat baik oleh seorang alumni bernama Pak Indra Kusuma, beliau menyediakan banyak fasilitas bagi kami, dan kami sangat salut pada beliau karena sangat rendah hati dan selalu mau membantu kami ber 10 yang benar-benar ramai dan kadang sangat merepotkan. Disana kami memakai 2 kamar, dan dijamu dengan sangat baik. Sehari sebelum lomba, kami diajak mengunjungi SMAN 81, terutama untuk yg team debat, sebagai sparing partner. Waktu itu Claresta belum sampai Jakarta karena masih mengikuti lomba di ITS Surabaya. Sehingga saya menjadi pengganti sementara nya. Di SMA 81 kami mendapat banyak pelajaran dan ilmu yang berguna, terutama untuk debat. Kami sangat berterima kasih sekali karena alumni membuat acara kunjungan ke 81 demi kami. malamnya Pak Indra, anak-anaknya, dan beberapa alumni mengajak kami dinner di Pacific Place, salah satu mall termegah dan termewah di Jakarta, kami anak Kediri yang katrok sangat senang sekali, karena itu pertama kalinya bagi kami makan dengan cara menggesekkan kartu ke mesin selain itu banyak sekali pilihan makanan yang sangat enak disana. Lalu kami diantar pulang setelah mencoba beberapa makanan dari luar Indonesia yang unik dan menarik. Esoknya kami diantar ke FHUI, Depok untuk menghadiri Technical Meeting. Yang kami sayangkan, kami sudah datang jam 7 sesuai yang dikatakan panitia,tapi ternyata saat kami sampai, FHUI masih sangat sepi dan amburadul, benar-benar kurang disiplin terutama panitianya. Saat TM kami mengambil undian untuk nomer urut. Teman saya, Desepta, yang juga ikut story telling bersama saya mendapat giliran kedua dan saya mendapat giliran ke 13. Saat TM, kami berkenalan dengan beberapa nak2 jakarta,, dan saat itu kami benar-benar takut kalah. Karena kami tahu anak2 daerah pasti dengan sangat mudahnya dikalahkan anak2 Jakarta yang notabene pada jago ngomong semua. Malamnya, pak Indra mengundang para alumni yang sudah berpengalaman untuk datang ke rumah beliau, lalu membantu teman-teman saya yang akan mengikuti debat. Pengalaman dan pengetahuan mereka sangat membantu teman-teman saya memahami motion debat tersebut. Mereka dengan sangat senang hati dan sukarela membantu dan sharing dengan teman2 saya. Sedangkan untuk stortel dan lomba2 lain, Mam Titis yang meng handle. Saat itu saya benar-benar nervous, dan sangat takut, karena saya belum hafal teks saya dengan lancar. Tapi mam Titis dan alumni2 serta teman2 saya dari Kediri terus mensupport saya. Sampailah di hari pertama lomba, Desepta membawakan ceritanya dengan baju Banda Aceh, sangat bagus. Dan saya dengan baju gamis ala Tuanku Imam Bonjol. Dan menurut yang lain termasuk lumayan memuakau. Tapi saya yakin, saya tidak mungkin masuk 5 besar finalis. Tapi akhirnya nasib berkata lain, saya dan Desepta masuk 5 besar finalis. Mengalahkan anak2 jakarta yang lain. Dan itu sudah merupakan kebangaan yang luar biasa bagi kami. Sebenarnya bagi kami, peserta dari Bandar Lampung adalah yg tersulit untuk dikalahkan. Dan saat itu team debat juga menang melawan balikpapan. Jadi hari pertama sangat2 menyenangkan bagi kami. Malamnya, para alumni datang lagi dan membantu teman-teman saya yang akan debat, dan juga untuk paper presentation. Hari kedua, paper presentation, newscasting, debate, dan speech berangkat ke UI untuk lomba, sedangkan untuk peserta stortel tidak ada jadwal, kami hanya harus menyiapkan bahan untuk final di hari ketiga. Saya menyiapkan nya dengans sedikit malas-malas an sebenarnya, begitu pula Desepta, dia malah sudah menyiapkannya dari rumah dibantu ayahnya. Sedangkan saya belum sama sekali. Akhirnya saya memilih Martha Christina Tijahahu. Saya sudah memikirkannya sebelum berangkat ke Jakarta, persiapan siapa tahu saya masuk final. Dan dengan bantuan bauku dari perpustakaan yang saya pinjam sebelum berangkat ke Jakarta, saya mebuat cerita nya menjadi lebih hidup, sedangkan Desepta sudah melangkah ke tahap menghafal. Jam 8 malam Mam Titis dan kawan2 baru sampai di rumah. Dan membawa berita yang kurang baik. Semua teman2 saya kalah, tapi yang debat masih tetap ada pertandingan, sedangkan paper presentation masih menunggu hari selasa untuk pengumuman.Untungnya, mereka tetap bisa menerima nya karena kebanyakan dari mereka masih kelas 1 dan masih banyak waktu lain. Mam Titis saat itu sudah sangat capek, tapi masih menyempatkan diri membantu merevisi naskah Desepta, sedangkan naskah saya diperiksa oleh alumni yang saat itu masih mahasiswa, malam itu, banyak sekali alumni yang dating, mulai dari yang masih mahasiswa sampai yang sudah sepuh dan berkeluarga. Mereka benar-benar membantu dan peduli pada kami. Jam 11 malam, saya baru mulai menghafalkan teks saya. Sedangkan Desepta masih kebingungan merevisi teks nya yang terlalu panjang dan sangat sulit. Jam 3 saya bangun lagi untuk menghafalkan sekali lagi. Jadi kalau di total saya hanya tidur selama 3 jam dari jam 12 samapi jam 3. Dan jam 5 kami mandi lalu sarapan. Di mobil menuju UI kami berusaha menghafalkan sekali lagi, dan Desepta dengan tidak putus asa terus menghafal, walaupun dia tahu naskahnya sangat panjang dan sulit. Akhirnya final datang, Mas An im, ketua PERMADI (perhimpunan Mahasiwa Kediri) datang dan mengambil video kami yang sedang tampil. Kami dipanggil dan maju satu per satu, para peserta lain sangat bagus dan memukau, sayang Desepta tidak hafal teks nya, sehingga dia hanya menampilkan sedikit saja dari seluruh teks nya. Dan pengumuman pun dilaksanakan langsung setelah 10 menit break, di luar kami sempat berbincang2 dengan para alumni lain yang datang dari fakultas2 lain dan ada alumni yang sudah berkeluarga sengaja datang untuk memberi support. Dan akhirnya….. saya mendapatkan juara 1, juara 2 dari Sma 1 tangerang, dan juara 3 dari Bandar Lampung. Saya mendapat banyak ucapan selamat dari para alumni, terutama dari Mam Titis yang berjuang bersama-sama dengan saya dan Desepta. Saya sangat tidak menyangka sama sekali saya bias menang dengan peringkat 1 nasional. Itu merupakan momen yang sangat luar biasa, pertama kalinya anak daerah menjadi juara di ALSA English Competition. Saya sangat bangga. Sayangnya tim debat kami kalah. Tapi prestasi kami lumayan bagus, team debate kami mendapat peringkat ke 30, kedua dari Jawa Timur. Hari keempat, teman2 yang sudah kalah pulang langsung ke kediri karena orang tua mereka sudah menyuruh mereka pulang dan kebanyakan karena ada urusan keluarga dan lomba-lomba laen. Hari selasa malam, saya, mam titis, dan Aulia bersama Pak Indra dan anaknya, Fae, berangkat ke UI untuk mengikuti Closing Ceremony. Sayangnya, closing ceremony nya kurang menggugah, hanya sekedar saja, kurang menarik.dan sayangnya lagi, Aulia tidak menang. Tapi kami mendapat banyak sekali pengalaman berharga. Rabu pagi, kami berpamitan dengan Pak Indra dan alumni2 lain yang sudah banyak membantu kami, karena Pak Indra sangat sibuk sehingga beliau sering pulang malam, dan tidak ada waktu lagi bagi kami untuk berpamitan. Rabu siang, kami diajak jalan-jalan ke mall ambassador dengan Fae. Dan Rabu sore, kami diantar salah satu alumni ke stasiun kereta, dibantu oleh kakak ipar Mam Titis. Dan kamis pagi kami sampai dengan selamat di Kediri. Kami sangat berterimakasih kepada para alumni yang mau rela berkorban bagi kami dan menyediakan fasilitas berupa jasa kepada kami. Kami benar2 salut pada kalian semua. Thanks… |